audiovideo.co.id

YOU ARE HERE: Home Diy World Tabung 845

Tabung 845

E-mail Print PDF

Tabung 845Entah mengapa, bagi telinga saya tabung jenis triode selalu bersuara lebih bagus ketimbang pentode atau tetrode. Kalaupun harus menggunakan pentode, saya selalu mendapati pentode yang dioperasikan secara triode-connection bersuara lebih bagus dibanding jika murni beroperasi sebagai pentode.

Kalaupun ada amplifier triode yang bersuara tidak bagus, biasanya karena didesain secara sembrono, atau menggunakan komponen bermutu rendah, atau ada persoalan mismatch antar perangkat.

Sayangnya, di satu sisi triode memiliki keterbatasan output-power, apalagi jika menggunakan topologi single-ended. Sementara di sisi lain, sebagian besar speaker modern memiliki sensitivitas rendah, artinya membutuhkan amplifier yang lebih bertenaga. Agar lebih leluasa memilih speaker, para triode-mania menggunakan amplifier triode dengan topologi push-pull atau parallel single-ended. Namun baik push-pull maupun parallel single-ended dianggap inferior dalam hal kualitas suara dibandingkan single-ended murni. Agar bisa mendapatkanoutput-power lebih besar dengan tetap menggunakan desain single-ended, maka pilihannya adalah menggunakan triode berdaya besar, yang biasanya merupakan tabung-tabung pemancar radio. Triode berdaya besar (juga dengan dimensi fisik yang besar) yang ada antara lain jenis 845, 211, 805, GM70, GM-100, WE 212E, dan beberapa tipe lain yang kurang populer.

Nah, bagaimana jika kali ini kita coba merancang dan merakit power amplifier single-ended dengan menggunakan tabung 845? Triode yang satu ini mampu menghasilkan output-power sekitar 20 watt per channel dalam mode single-ended. Tabung 845 juga mudah diperoleh mengingat pabrikan tabung asal Cina dan Eropa Timur masih memproduksi tabung 845 hingga saat ini. Sebelum memutuskan untuk mencoba proyek ini, sebaiknya Anda mempertimbangkan bahwa proyek ini bukan untuk pemula, mengingat kita akan berurusan dengan catu daya listrik bertegangan tinggi, lebih dari 1000 volt. Tegangan listrik di atas 1000 volt adalah tidak aman dan membutuhkan penanganan khusus.

Tabung Triode 845

Tabung 845 dan tabung 211 sama-sama populer di kalangan penggemar amplifier tabung. Audionote / Kondo Gaku-On dan On-Gaku yang terkenal itu menggunakan tabung 211. Sedangkan Cary CAD-805C yang menggunakan tabung 845 juga terkenal bersuara bagus dan merupakan flagship-product bagi Cary Audio Design. Jika tabung 211 memiliki karakter suara yang gesit dan dinamis, sebaliknya 845 memiliki suara yang megah dengan vokal dan respon bass yang sangat bagus. Beberapa amplifier (termasuk proyek kita kali ini) didesain untuk bisa menggunakan kedua triode tersebut.

Untuk bisa menggunakan baik tabung 845 maupun 211 (switchable), maka metode fixed-bias adalah pilihan yang paling rasional. Hal ini mengingat bias tegangan negatif pada grid 845 (sekitar -155 volt) berbeda jauh dengan 211 (sekitar -61 volt). Dengan menggunakan fixed bias, kita bisa gunakan sebuah switch pemilih tegangan bias yang sesuai dengan tabung yang kita gunakan, 845 atau 211 (lihat gambar 1).

gambar 1

 

 

 

 

 

 

 

 

Desain dan Pilihan Driver

Saya pribadi lebih menyukai karakter suara 845 ketimbang 211. Namun 845 lebih difficult to drive. Walau bisa saja kita gunakan single-stage driver yang sederhana, dengan menggunakan high Mu triode macam 12AX7 atau 6SL7, tetapi sebagian DIYer melaporkan hasil yang kurang memadai. Hal ini lebih disebabkan kapasitas arus 12AX7 atau 6SL7 yang kurang memadai untuk tugas men-drive tabung macam 845. Alternatifnya, bisa saja kita gunakan triode 6C45, 417A/5842, EC8010, atau 437A, yang merupakan high Mu triode dengan kapasitas arus relatif tinggi. Alternatif yang lebih mudah tentu saja menggunakan pentode macam EL84. Tapi dari pengalaman saya, high Mu triode dan pentode cenderung bersuara agak kering.

Maka saya cenderung memilih low Mu triode dengan kapasitas arus relatif tinggi, sebagai driver untuk tabung 845. Konsekuesinya, saya harus menggunakan dual-stage driver dalam hal ini. Alternatif yang saya pikirkan untuk posisi driver ini adalah 300B, 2A3, 45, 10Y/VT25, 801A/VT62. Semuanya triode. Kalaupun harus menggunakan pentode, saya akan pertimbangkan EL34. Harap jangan tanyakan mengapa saya tak pertimbangkan RS241, AD1, VT52, 50, atau RE604 dalam daftar alternatif itu, terlalu mahal dan langka untuk dijadikan sebuah driver. 300B merupakan pilihan umum dan logis, seperti halnya yang dilakukan Cary Audio ataupun Spark/Caiyin dalam amplifier 845 mereka. Maka saya tak lagi tertarik untuk memilih 300B. Bukankah lebih baik saya mencoba sesuatu yang lain untuk menambah pengalaman eksperimen? 2A3 dan 45 saya yakin sama-sama bagus di posisi driver, dua-duanya memiliki plate impedance yang relatif rendah. Tapi keluarga triode 10Y (10Y/VT25/VT62/801A) menjadi favorit saya selama ini, meskipun dengan plate resistance yang lebih tinggi dibanding 2A3 dan 45. Karena kita bermain tegangan di atas 400 volt, bagaimana jika kita pilih VT62/801A?

Karena tabung 845 sangat demanding, maka metode penggandengan driver-stage ke final-stage melalui sebuah interstage transformer merupakan pilihan yang paling logis, bukan menggunakan RC coupling. Tapi interstage transformer berkualitas baik harganya mahal. LC coupling lebih bagus ketimbang RC coupling, tapi lagi-lagi harga plate-choke atau grid-choke juga relatif mahal. Saya akan pertimbangkan interstage transformer atau LC coupling belakangan. Sementara ini cukup menggunakan RC coupling dulu, lebih sederhana, dan saya bisa gunakan coupling capacitor bermutu bagus dengan harga yang tetap lebih murah daripada transformer.

skema 2

 Selanjutnya, tabung apa yang cocok bertugas di posisi input? Begitu banyak pilihan di sini. Tetapi karena tabung input ini akan mengumpan VT62, maka saya cenderung memilih medium Mu triode di posisi ini, sekali lagi dengan kapasitas arus yang relatif tinggi, untuk menjamin ketersediaan headroom saat harus menangani musik-musik yang membutuhkan arus lebih kencang nantinya. Alternatif yang bisa dipertimbangkan adalah 5687, 6H30, ECC99, E182CC, 12BH7, E80CC, 12AY7/6072, 12AU7. Tabung 5687 cenderung bersuara tebal dan saya khawatir membuat amplifier 845 bersuara terlalu tebal. 6H30 dan ECC99 kurang saya sukai karakter suaranya. Suara 12AU7 cenderung berselaput, bukan triode yang cocok untuk saya. Pilihan pun saya jatuhkan ke triode E80CC yang bisa digantikan oleh 12BH7. Jika saya menggunakan desain SRPP, maka posisi tabung ini juga dengan mudah bisa digantikan oleh 12AY7/6072, 12BH7, maupun 12AU7. Aha, pilihan bagus nampaknya. Skemanya tak terlalu rumit, coba Anda perhatikan Gambar 2 dan Gambar 3. 

skema 2












Kita telah menetapkan pilihan tabung VT62 untuk posisi driver dan E80CC pada posisi input. VT62/801A merupakan keluarga tabung 10Y, tetapi dengan kapasitas tegangan kerja yang lebih tinggi, Va bisa digenjot hingga 600 volt dibanding 10Y/UX210/VT25 yang memiliki Va maksimal 425 volt . Untuk keluarga tabung ini, beberapa eksperimen saya menunjukkan bahwa kualitas suara terbaik dihasilkan dengan memasang tegangan kerja maksimal. Pilihan tabung input lebih fleksibel, E80CC bisa diganti 12BH7 atau bahkan 12AU7 jika saya kehabisan stok E80CC.

Gain vs voltage swing

Apakah gain yang dihasilkan cukup untuk mengemudikan tabung 845? Tabung E80CC, dengan Mu 27 dan konfigurasi SRPP capacitor coupling, kira-kira memberikan voltage gain sebesar ¾ Mu atau sekitar 20 kali. Saya asumsikan amplifier 845 ini diumpan sinyal musik sebesar 2 volt (output level rata-rata CD player). Maka pada stage awal tersedia voltage output sekitar 40 volt (20 x 2 volt). Sedangkan pada stage kedua (driver), VT62 dengan Mu 8 dalam konfigurasi anode-follower dan tetap dengan capacitor coupling, kira-kira menghasilkan actual gain sekitar 6 kali. Artinya di grid 845 akan tersedia voltage swing sekitar 240 volt. Di atas kertas, ini cukup untuk mendorong 845 mencapai output maksimalnya. Dengan tabung 211, tentu saja voltage swing yang dihasilkan kombinasi E80CC + VT62 ini lebih dari cukup. Maka, skema amplifier 845 ini siap diimplementasikan (tentang cara perhitungan nilai komponen pada skema ini bisa Anda baca kembali pada artikel saya terdahulu).

Pemilihan komponen

Saya selalu menganalogikan kualitas sebuah perangkat audio high-end dengan kualitas sebuah masakan, yang “kelezatannya” tergantung pada “resep masakan” (desain rangkaian), “keahlian dan pengalaman si koki” (keahlian si perakit), serta kualitas “bahan masakan dan bumbu” (kualitas komponen). Ketiga unsur itu harus sama-sama bagus untuk menghasilkan “masakan yang lezat” (perangkat yang berkualitas tinggi). Ehm, saya sama sekali tak merasa bahwa desain rangkaian dan keahlian saya sudah sangat memadai, sama sekali tidak. Jadi harapan saya tentu saja pada kualitas komponen yang seoptimal mungkin, he..he..he..

Tetapi komponen-komponen terbaik harganya bisa sangat mahal. Anda mungkin tahu kapasitor kopling berbahan teflon dari VH cap misalnya, harganya bisa mencapai satu juta rupiah sebuah! Apalagi AudioNote Silver Foil cap, ampun deh. Mau pakai tabung 845 NOS buatan Amperex? Harganya bisa mencapai US$ 1200 sepasang! Bagaimana dengan output transformer buatan AudioNote? Ehm, harganya bisa mencapai 8 juta rupiah sepasang! Resistor tantalum dari AudioNote atau Shinkoh? Enggak dulu deh, harganya sebiji sekitar 75 ribu rupiah untuk yang 1 watt! Tidak, saya tak akan gunakan komponen-komponen eksotik itu sebelum yakin bahwa hasilnya akan benar-benar istimewa. Lagipula pengalaman saya mengajarkan bahwa sekumpulan komponen high-grade belum tentu menghasilkan kualitas akhir terbaik jika kombinasinya tidak tepat.

Jadi, saya coba gunakan kombinasi terbaik antara kualitas komponen dan dompet saya, ha..ha..ha… Untuk tabung, bagaimana jika kita gunakan saja NOS Valvo E80CC? Kebetulan saya ada sepasang. Lantas masih ada NOS Sylvania VT62 untuk posisi driver. Untuk 845, sementara kita gunakan saja Shuguang yang murah meriah (lebih murah dari rata-rata 300B malah), sembari memimpikan Amperex 845 suatu hari kelak. Untuk OT dan power transformer, kebetulan pak Surjono Karjadi menawarkan OT buatan Cina yang masih dimilikinya, jauh lebih murah dibanding AudioNote, tetapi tampak cukup meyakinkan. Kebetulan saya juga punya sepasang oil choke 2 Henry - old production - untuk keperluan power-supply. Lantas kombinasi resistor Allen-Bradley dan Vishay, kapasitor Nichicon di power supply, dan lain-lain yang kualitasnya boleh dibilang bagus namun tak terlalu menguras kantong. Untuk sasis, tentu saja saya memilih kombinasi kayu dan plat aluminium yang selalu tampak klasik.

Power supply

Hati-hati jika Anda seorang pemula, kita bermain-main dengan tegangan di atas 1000 volt kali ini. Pemasangan bleeder resistor is a must! Kita tak mau secara tak sengaja menyentuh terminal kapasitor filter yang masih berisi tegangan ratusan volt bukan?  Resistor 100K/2W yang dipasang paralel pada kapasitor terakhir sudah cukup memadai. Kali ini kita gunakan solid-state diode untuk memasok tegangan VT62 dan 845. Saya pilih Telefunken diode di sini. Mengapa bukan tube rectifier? Oh, saya tak ingin amplifier ini menjadi terlalu mellow karena pengaruh karakter VT62. Sebaliknya kita gunakan tube rectifier untuk memasok tegangan ke E80CC. Selain karena hanya membutuhkan tegangan sekitar 500 volt, tube rectifier akan membuat karakter mini-triode macam E80CC yang biasanya kaku menjadi sedikit luwes dan lebih warm. Selebihnya nothing special, seluruh filamen menggunakan catu daya DC sederhana dengan diode bridge dan filter capacitor. Perhatian khusus perlu diberikan dalam hal pemasangan switch penyesuai tegangan bias untuk tabung 845/211. Bukan apa-apa, jika kita salah pasang switch ke posisi 211 sementara tabung yang terpasang 845, kita segera kehilangan tabung 845 dan mungkin juga OT.

Hasil Akhir

Proses perakitan tak memakan waktu lama. Yang lebih memakan waktu justru proses penyesuaian bagian power supply untuk mendapatkan tegangan catu yang diharapkan. Lantas juga beberapa penggantian jenis resistor dan kapasitor dilakukan untuk mendapatkan karakter yang diinginkan. Setelah beberapa kali bongkar-pasang, akhirnya saya cukup percaya diri untuk mengundang beberapa rekan mencicip dengar amplifier 845 ini pada suatu kesempatan. Dipasangkan langsung dengan CD player Audio Analog Capitole SE dan diumpan ke sepasang speaker Tannoy Stirling, amplifier 845 ini tampil mengesankan saat menyajikan beberapa lagu bernuansa live. Tak ada kesan loyo, dengan repro bass yang mantap serta vokal yang empuk tetapi natural, serta repro high – yang meski tak sehebat amp 2A3 atau RS241 – toh terkesan cukup detil dan transparan. Perasaan saya berkecamuk antara senang dan bangga saat hampir semua rekan yang hadir saat uji dengar ikut bertepuk tangan ketika lagu Stimela dari Hugh Masekela berakhir, larut dalam suasana live yang dihadirkan. Salah satu tamu, bung Basuki, malah segera menyatakan untuk mengambil alih amplifier 845 ini, he..he..he..

Setelahnya, saya masih sempat menguji dengar dengan memasangkannya pada speaker Kharma. Hasilnya memuaskan, walau menurut mereka yang hadir saat itu masih kurang ada kesan suara yang dramatis saat berpasangan dengan Kharma. Lantas sempat pula membandingkan dengan amplifier 845 impor merk “X” yang menggunakan driver 300B dan input 6SL7 serta 6SN7. Terasa jelas bahwa amplifier 845 pada proyek kita ini tampil lebih detil, dengan vokal yang lebih natural dan respon nada tinggi yang lebih extended, meski terasa sedikit kurang tebal di mid-low dibanding “rivalnya” itu. Secara umum hasil akhir proyek ini cukup memuaskan saya, dan saya telah mengantongi sejumlah catatan rencana untuk merevisi desain amplifier 845 ini, suatu hari nanti.

Penulis : Arif Wicaksono (TubeLover)

Opera Consonance 845SPure Sound M845


 

Baca Juga

Kamus

kamusKamus Audio Video Informasi tentang kamus, istilah seputar dunia audio video . Lanjut..