audiovideo.co.id

YOU ARE HERE: Home Reviews Vermouth Audio Red Velvet Analog Interconnect

Vermouth Audio Red Velvet Analog Interconnect

E-mail Print PDF

Kabel bagus tak selalu harus mahal

Melihat penampakan kabel interkonek Red Velvet dari Vermouth Audio, terus terang saja kami bukannya terkesan oleh tampilan fisiknya yang dibalut warna merah menyala itu (atau Anda terpesona olehnya?).

Sebaliknya, saya malah langsung terbayang-bayang pada sejumlah kabel keluaran Cina yang harganya murah meriah, dengan kemasan yang eye-catching, tetapi performanya jauh di bawah tampilan fisiknya. Apalagi, ini varian terbaru Vermouth yang diklaim sebagai versi ekonomis, dengan harga di bawah satu juta rupiah. Jauh di bawah harga Vermouth Black Pearl yang dibandrol Rp. 2,7 juta itu. Too good to be true?

Tapi tunggu dulu, pihak Vermouth mengatakan bahwa Red Velvet telah terjual lebih dari 200 pair dalam waktu 2 bulan saja. Prestasi yang sangat bagus untuk sebuah kabel bikinan lokal yang ditujukan kepada kalangan pengguna high-end audio. Tak hanya itu rupanya, pada tanggal 24-26 Februari 2012 melalui perwakilan Vermouth di UK, Mains-Cables-R-Us, Red Velvet telah hadir di Bristol Audio Show, sebuah pameran audio berkelas international. Nah, jadi kami berharap ini kabel yang berbeda dari puluhan (atau jangan-jangan ratusan) varian “made in China” yang kami maksud di atas. Apa boleh buat, meski Apple dan banyak merk terkemuka toh diproduksi di China, tapi hasil riset terakhir di tahun 2010 menunjukkan bahwa persepsi masyarakat dunia terhadap produk “made in China” adalah low quality. Tapi Red Velvet adalah made in Indonesia, dan Anda boleh percaya boleh tidak, bahwa produk buatan Indonesia ternyata dipersepsikan memiliki kualitas lebih baik dibanding produk asal negeri tirai bambu itu.

Nah, Red Velvet yang kami terima untuk review ini merupakan varian yang menggunakan konektor berlapis emas, ini yang termurah dari keluarga Red Velvet. Yang termahal menggunakan konektor berlapis rhodium. Bahan baku kabel ini adalah material 7N Copper, yang berarti menggunakan tembaga dengan tingkat kemurnian 99.99998%, dengan proses metalurgi UPOCC. UPOCC adalah singkatan Ultra Pure Ohno Continuous Cast, teknik yang ditemukan oleh profesor Ohno dari Jepang untuk mendapatkan tembaga dengan kristal tunggal, yang memungkinkan signal ditransfer lebih bebas hambatan. Konon kabel ini biasa digunakan pada kabel-kabel Ultra High-End berlabel merk-merk terkenal.

Maka segera kami siapkan perangkat kami untuk keperluan uji dengar, sebuah CD player Audio Aero Capitole Reference kami umpan ke sebuah amplifier tabung Air Tight, melalui Red Velvet, dan selanjutnya diteruskan ke sepasang speaker Vienna Acoustic Mozart Grand melalui kabel speaker Oritek S1. Sebagai pembanding kami gunakan Audioquest Diamond Hyperlitz X3, Duelund 2.0 rev.2, Nordost Black Knight dan Vermouth Black Rhodium. Dua kabel yang kami sebut pertama sebetulnya bukan pembanding yang baik. Pertama karena kelasnya, paling tidak dari sisi harganya yang di atas 10 juta rupiah, nampak seperti David vs Goliath. Kedua, Red Velvet menggunakan bahan tembaga, sedangkan Diamond X3 dan Duelund menggunakan bahan perak. Pembanding yang lebih sepadan adalah Nordost Black Knight, baik dari sisi harga maupun material yang digunakan. Tapi tak mengapa, karena memang kami ingin menguji seberapa jauh Red Velvet ini mampu bersaing dengan kabel “branded”, regardless of harga dan material yang dipergunakan.

Setelah memilih beberapa software (materi lagu), kami pun segera tenggelam dalam keasyikan uji dengar. Kami memang tak berharap terlalu banyak dengan membandingkan Red Velvet dengan Duelund misalnya, tapi toh di kesan awal ini kami merasa Red Velvet tampil jauh dari harapan. Jauh dari kesan open dan transparan, secara keseluruhan malah terdengar agak kusam. Kami merasa seperti ada tirai tebal antara kami dengan speaker, reproduksi nada-nada high juga terkesan rolled-off terlalu awal. “Treble-nya ngga keluar sama sekali nih…,” demikian komentar seorang rekan kami yang ikut uji dengar. Kami coba bandingkan dengan Nordost Black Knight, memang si Black Knight juga lebih open pada nada tinggi, meskipun kali ini Red Velvet unggul telak untuk urusan mid dan vocal. Dibanding Black Pearl yang berkarakter bright, Red Velvet terkesan tampil “malu-malu”.

Kami putuskan menghentikan uji dengar untuk memberikan kesempatan Red Velvet mengalami proses break-in dulu. Bukan mengapa, pengalaman kami dengan Duelund 2.0 rev2 itu juga nyaris sama, sama sekali tak istimewa saat awal uji dengar. Tetapi kemudian seperti Upik Abu yang menjelma menjadi Cinderella setelah proses break-in 200 jam! Untuk mempercepat proses break-in, kami pasang Red Velvet dari analog output TV LCD ke sepasang speaker aktif, dan menyala nyaris 20 jam sehari, selama 5 hari, dari Senin hingga Jumat! Jadi total telah 100 jam saat di hari Sabtu berikutnya kami siap mengulang uji dengar.

Hasilnya? Sang “pangeran kodok” telah menjelma menjadi “Prince Charming”, lengkap dengan kuda jantan putih yang sangat gagah. Yup, dengan perangkat pendukung dan kabel pembanding yang sama, kali ini Red Velvet menghasilkan suara yang jauh lebih bagus dibanding Nordost Black Knight. Dengan karakter mid yang smooth dan vokal yang berbobot, kali ini di nada nada tinggi tidak lagi kusam, jauh lebih transparan dan extended meski tetap tidak seterbuka Vermouth Black Pearl. Dibanding Black Pearl yang lebih bright, bagi kami karakter nada nada tinggi Red Velvet lebih pleasurable gak bikin capek. Stereo image dan soundstage lebih baik dibanding saat menggunakan Black Knight dan Black Pearl tapi memang masih kalah dibanding Diamond X3 dan Duelund 2.0. Di nada-nada bass, Red Velvet tetap tak bisa mengalahkan Diamond X3 maupun Duelund 2.0 tetapi masih bagus dibandingkan Black Knight.

Dibanding “saudara tuanya”, Vermouth Black Pearl, karakter Red Velvet lebih laid back dan sebaliknya Black Pearl sangat forward. Sehingga untuk mendengar musik berlama-lama dapat kami pastikan menggunakan Red Velvet lebih aman dari kondisi ear fatigue yang mudah dialami jika menggunakan Black Pearl. Di dalam sistem audio yang menggunakan tabung terasa bahwa Red Velvet merupakan pilihan kabel yang tepat jika bujet Anda di bawah 5 juta rupiah. Sedangkan Black Pearl menurut kami lebih cocok untuk perangkat berbasis solid-state.

Apakah kabel ini worth it? Jangan berharap kabel ini bisa menandingi Duelund 2.0 dengan MSRP sekitar 16 juta rupiah itu, tetapi kami sangat optimis bahwa kabel ini bisa menandingi atau bahkan dalam beberapa case melampaui performa kabel-kabel branded sampai dengan harga 5 jutaan rupiah. Karakter kabel ini dalam menyalurkan nada-nada mid dan vokal akan dengan mudah memikat hati penggemar musik audiophile. Jika Anda suka nada tinggi yang lebih terbuka, mungkin pilihan konektor silver atau rhodium lebih tepat. Langkah Vermouth untuk memberikan opsi ini kami nilai cukup cerdas dalam menyiasati kelebihan dan kelemahan Red Velvet, agar lebih sesuai dengan preferensi penggunanya.

Performa Red Velvet secara keseluruhan cukup mengejutkan untuk sebuah kabel interkonek yang dipasarkan dengan harga di bawah satu juta rupiah. Two thumbs untuk Vermouth. Kami tak ragu untuk menyimpan satu pair sebagai referensi saat menguji kabel interkonek.           (Penguji : Arif Wicaksono/ CEO Tubelover-Indonesia)

Rating :

Tampilan fisik : 8,5

Kualitas Suara : 8

Kualitas dibanding harga : 9

Perangkat Pendukung


Kabel Pembanding